Kartu ATM hilang

Kemarin pagi, saya berencana mengganti buku tabungan BNI. Hanya saja antriannya padat merayap, akhirnya saya mengurungkan niat mengganti buku tabungan. Tiba-tiba terbesit pikiran untuk menarik uang tunai di ATM, saat merogoh kartu ATM di dompet malah tidak ada. Saya pun mencari di sela-sela dompet dan hasilnya nihil. Ya, mulailah perkara baru: kartu ATM saya hilang.

Saya berusaha tenang dan tetap ke kantor untuk bekerja. Saya merencanakan saat jam makan siang saya akan ke bank BNI untuk memproses kartu ATM yang hilang. Sebelum itu, saya googling tentang kasus “Kartu debit BNI yang hilang”. Nah dari beberapa sumber yang saya baca ternyata kita bisa mengurusnya langsung ke bank BNI di cabang manapun tanpa membawa surat keterangan hilang dari kepolisian. Setidaknya saya lega tidak berurusan dengan polisi. Maklum, entah saya benar atau tidak kenapa berurusan dengan polisi rasanya ribet ya? Mungkin ini karena media massa dan televisi yang kebetulan saya tonton melihat tingkah polisi yang tidak menyenangkan dan terkesan galak.

Setelah makan siang, saya langsung menuju bank dan menunggu kurang lebih 45 menit tibalah antrian saya ke customer service (CS). Setelah diskusi dengan CS, ternyata saya tetap membutuhkan surat keterangan hilang dari kepolisan. CS pun menanyakan apakah kartu ATM saya mau diblokir. Saya jawab tidak. Kenapa? Karena, kalau diblokir saya tidak bisa menarik uang di teller (sebagaimana yang diberitahukan oleh CS tersebut). Saya bersikap yakin seperti itu karena di BNI SMS Banking saya juga tidak ada transaksi mencurigakan di luar sepengetahuan saya. Saya menanyakan syarat-syarat apa saja yang diperlukan untuk meminta surat keterangan hilang kepada CS tersebut. Ia mengatakan bahwa saya membutuhkan:

  1. KTP.
  2. Buku Tabungan BNI saya.
  3. Waktu kartu itu menghilang.

Saya putuskan untuk kembali ke kantor kemudian menelpon keluarga bahwa kartu ATM saya hilang. Waktu menelpon saya meminta adik saya untuk mencari di dalam rumah (siapa tahu tertinggal di rumah). Hasilnya nihil. Kemudian, terbesit pikiran untuk mengecek transaksi saya di BNI SMS Banking. Saya mencari kapan terakhir kali saya melakukan tarik tunai di ATM. Hasilnya, saya melakukan tarik tunai pada tanggal 1 September 2018. Kalau dihitung-hitung sudah hari keempat (5 September 2018) saya kehilangan kartu ATM dan saya tidak menyadarinya sama sekali. Astaga.

Kemudian, saya menelpon ayah saya dan bertanya bagaimana cara mengurus surat keterangan hilang tersebut. Tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan CS tadi. Hanya saja saya harus menyediakan uang 25 ribu untuk biaya surat keterangan tersebut. Sebenarnya tidak ada biaya untuk surat tersebut, hanya saja saya disuruh sediakan saja sebagai ucapan terima kasih kepada polisi yang akan membantu saya. Inginnya pada hari itu juga saya ingin mengurusnya, tetapi saya urungkan karena sudah sore dan kantor polisi di daerah saya tinggal sudah tutup.

Saya berpikir rumit bahwa kalau KTP saya Gianyar maka mengurusnya harus di Gianyar ternyata tidak demikian. Untung cuma imajinasi saja. Pelajaran penting buat saya kalau ngga boleh kehilangan kartu apapun (kecuali kartu mainan. :P)

Hari kelima (hari ini, 6 September 2018) saya ke kantor polisi sekitar sekitar jam 7:30 pagi. Saya mencari surat keterangan tersebut dan bertemu dengan petugas yang mengurusnya. Saat saya ceritakan kalau kartu saya hilang, petugas tersebut menghela nafas (rasanya mau marah atau sudah malas berurusan dengan kasus kehilangan kartu ATM dan sejenisnya). Untungnya saya dilayani dengan baik. Sekilas saya kenal petugas tersebut. Ternyata beliau adalah bapak dari teman saya waktu SMA. Inginnya saya tegur sapa tapi tiba” agak grogi. Ha ha ha.

Surat keterangan selesai dan saya bertanya berapa biayanya, beliau menjawab tidak usah. Ya sudah, saya tidak jadi memberikan uang 25 ribu ke ybs dan langsung ke bank. Proses mencetak kartu ATM baru selesai dan saya sedikit lega.

Beberapa hikmah yang bisa dipetik di sini:

  1. Jaga kartu ATM, SIM, KTP, STNK dan aset-aset berharga lainnya. Kalau hilang, rasanya repot setengah mati.
  2. Jangan percaya pada hasil googling. Kita harus ngerasain dan ngalamin sendiri.
  3. Jangan berpikir di luar ekspektasi (seperti kasus KTP saya Gianyar tadi).
  4. Untuk kasus polisi tadi saya sudah ceritakan ke orang tua saya. Sekilas orang tua saya bilang saya bego. Wkwkwk, mengapa tidak kasih saja uang terima kasih tersebut kepada polisi yang membantu saya tadi. Saya punya prinsip kalau saya tidak bisa membalas kebaikan orang yang membantu saya secara langsung, saya berharap amal baik diberikan kepada orang yang membantu saya entah dengan cara apa Tuhan memberikannya. Kemudian, kalau saya menyerahkan uang tersebut kepada polisi tersebut tanpa ia memintanya, itu sama saja saya secara sadar melakukan praktik KKN (ini menurut pandangan saya ya). 

Sekian cerita dari saya semoga bermanfaat.

 

satyakresna

~Tetap Fokus~