Hal-hal yang Saya Dapatkan dari Webunconfid

Selesai sudah hajatan webunconfid yang diadakan di Ethest Coworking Space tanggal 29–30 September 2018. Sebuah momen buat saya bertemu dengan teman-teman yang aktif di dunia komunitas yang hanya bisa saya jumpai di sosial media kini bisa ditemui di dunia nyata.

Acara ini bukan cuma bertemu dengan mereka saja tetapi kami diajak untuk mencari permasalahan apa yang dialami oleh para pengembang web di Indonesia baik dari dalam maupun luar komunitas. Sesuai dengan konsep acaranya, unconference merupakan konsep yang mana topik ditentukan oleh para peserta bukan pihak penyelenggara. Harapan dari acara ini adalah kami bisa menemukan permasalahan (lebih dari satu) yang dialami oleh para pengembang web dan solusi yang bisa ditawarkan.

Selama saya mengikuti acara, kami mendapatkan dua topik permasalahan yakni komunitas dan teknologi web. Setiap topik dipisah dengan papan karton yang diisi dengan sticky notes.

Salah satu peserta menempel sticky notes

Salah satu peserta menempel sticky notes

 

Giliran saya passang issue di board. 😂

 

Pengelompokan issue di komunitas

Pengelompokan issue di komunitas

 

Pengelompokan issue di web

 

Voting issue di komunitas

 

Voting issue di web

Sejauh yang Anda lihat di atas terdapat topik permasalahan yang dianggap penting di komunitas dan web.

Topik di sesi komunitas:

  • Pertumbuhan dan regenerasi komunitas
  • Talenta (berhubungan dengan kemampuan dan gaji, kebutuhan industri dan sejenisnya)
  • Dukungan pada komunitas
  • Kepemimpinan dan keberagaman (khususnya jumlah laki-laki dan perempuan yang terlampau jauh di serial pertemuan komunitas)
  • Open source project (cara berkontribusi)
  • Lonjakan kemampuan dan budaya berbagi (skill gap and sharing culture)
  • Menulis konten (menerjemahkan konten dari bahasa Inggris ke Indonesia)

Topik di sesi web:

  • Web sebagai platform untuk e-commerce
  • Scaling front end
  • Performance
  • PWA
  • Web Components
  • Web VS App

Dari semua itu, kami diwajibkan untuk mengikuti satu topik saja di setiap sesi dan setiap sesi hanya diberikan waktu sekitar 15 menit. Saya memutuskan memilih topik open source project untuk sesi komunitas dan web components di sesi web.

Topik open source project

Irfan (kiri baju hitam) dan Ivan (kanan baju hitam) membawakan topik open source project

Irfan (kiri baju hitam) dan Ivan (kanan baju hitam) membawakan topik open source project

Topik ini dimoderatori oleh Irfan Maulana dan Irvan Kristianto. Yang saya dapatkan di sana adalah pertama, banyak developer membuat repository publik di Github dan tidak membuat panduan cara menggunakan dan berkontribusi terhadap repository yang mereka buat. Terlihat sepele tetapi penting bagi yang membuat repository dan yang akan mencoba bahkan menggunakan repository tersebut. Saya pernah mengalami dan mencoba menjalankan vanilla Hacker news PWA tidak sesuai dengan dokumentasi (README.md) yang disediakan oleh developer tersebut. Alhasil saya membuat pull request untuk membantu developer lain yang ingin mencobanya. Kedua, masih banyak developer mengalami kendala bagaimana cara berkontribusi terhadap project open source. Yang saya amati adalah dari kendala teknis seperti merging branch, merge conflict commit atau branch dan melakukan pull request via Github. Sebenarnya cara berkontribusi menurut saya sederhana bagi Anda yang pemula terhadap Github seperti membuat issue atau mengarahkan issue yang sama dengan issue yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Ketiga, penggunaan Git dan Github secara tidak langsung menaikkan derajat kita sebagai programmer di mata industri karena rata-rata portofolio atau berkas latihan kita taruh di Github. Bahkan tak jarang kita berlomba-lomba agar tembok kita berwana hijau.

Tembok hijau idaman para developer. Sumber gambar dari Google.

Tembok hijau idaman para developer. Sumber gambar dari Google.

Topik Web Components

Peserta webunconfid yang ikut topik Web Components

Topik ini dimoderatori oleh saya sendiri. Web Components telah menjadi gaya para pengembang web dalam mengembangkan produk mereka salah satunya website webunconfid. Jika Anda belum pernah mendengar Web Components sebelumnya, Anda bisa membacanya di artikel saya berjudul “Web Components – Apa, Mengapa dan Bagaimana“. Terdapat tiga poin yang saya dapatkan dari permasalahan Web Components. Pertama, dukungan Web Components terhadap beberapa browser mulai dari Chrome, Firefox, Safari dan Edge. Perlu diketahui tidak semua browser mendukung penuh teknologi web yang kita pakai hal ini karena menurut saya adalah prioritas browser vendor. Hal ini juga berlaku pada Web Components seperti gambar di bawah.

Dukungan Web Components terhadap browser. Diambil di webcomponents.org pada tanggal 06 Oktober 2018

Dukungan Web Components terhadap browser. Diambil di webcomponents.org pada tanggal 06 Oktober 2018

Kedua, keuntungan menggunakan Web Components pada developer dan end user. Menurut saya pribadi, Web Components lebih cenderung menguntungkan developer karena memberikan developer kenyamanan mendesain template web dan menulis tag HTML element lebih sedikit dibandingkan tidak menggunakan Web Components. Namun, hal ini kembali ke kenyamanan masing-masing dalam memberikan produk mereka kepada end user. Ketiga, cara agar Web Components berhasil dalam SEO dan Accessibility. Untuk issue ketiga saya belum meneliti lebih jauh namun saya telah menemukan dua artikel yang menurut saya cocok terhadap persoalan ini: “Server-side rendering web component” dan “How to Make Accessible Web Components – a Brief Guide

Sebenarnya ada beberapa topik yang sudah saya tulis dan pasang di papan, hanya saja tidak berhasil mendapat voting terbanyak. 😅 Supaya tidak mubazir di ingatan saya maka akan saya paparkan satu per satu.

Topik yang saya ajukan di sesi komunitas

Pertama, mendorong pelajar yang bergelut di bidang informatika datang ke meetup komunitas. Kedua, menumbuhkan rasa anggota komunitas menjadi pembicara di meetup komunitas untuk mengatasi 4L (Lu Lagi Lu Lagi).

Topik yang saya ajukan di sesi web teknologi

Pertama, penyamarataan prioritas utama browser vendor (ketimpangan web API yang menyebabkan harus melakukan polyfill). Kedua, konsistensi dalam menerjemahkan konten atau artikel ke dalam bahasa Indonesia apalagi istilah-istilah web (beberapa di antaranya) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Bonus

Karena banyak pelajar atau programmer yang galau dengan kemunculan tools atau bahasa pemrograman baru, ada satu slide yang bagus yang disajikan oleh Daniel Armanto (CTO Tiket.com).

Semua akan kembali ke asalnya.

Saya menemukan artikel pendukungnya dengan judul “Hype Driven Development

Ucapan terima kasih

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada teman-teman organizer dan sponsor (Tiket.com dan Sirclo) sudah menyediakan acara ini dengan baik dan sudah mempertemukan saya dengan teman-teman komunitas yang selama ini saya hanya bisa ajak obrol di sosial media kini bisa bertemu secara langsung. Mohon maaf apabila ada kata atau perbuatan yang menyinggung baik di sengaja maupun tidak disengaja. Semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

Closing webunconfid 2018

 

satyakresna

~Tetap Fokus~

 

One thought on “Hal-hal yang Saya Dapatkan dari Webunconfid

Comments are closed.