Esensi (Ber)komunitas

Pertama kali saya bergabung dengan komunitas kira-kira sekitar tahun 2010. Itupun komunitas yang saya ikuti bukan programming melainkan teater dan Yu-Gi-Oh! card game (jika kamu tahu game ini).

Di komunitas teater tidak bertahan lama karena seleksi alam (nampaknya jiwa saya bukan anak teater). Jadi, yang tersisa adalah komunitas yang Yu-Gi-Oh! Dari komunitas ini saya sampai nekat membeli kartu aslinya keluaran Konami (English) dan masih saya simpan sampai sekarang. Dan dari komunitas ini pula saya berkenalan dengan seorang dosen programmer yang punya hobi main kartu ini. Catatan: waktu itu saya tidak tahu bahwa profesi beliau adalah dosen programmer.

Jadi, waktu saya kuliah (tahun 2013) jika saya mentok dengan hal-hal berbau programming (waktu itu Java) maka saya akan bertanya kepada beliau. Meski kemampuan programming beliau adalah ASP .NET, tetapi beliau juga paham pemrograman Java. Dari situ saya belajar kalau bahasa itu cuma tools dan yang penting adalah logika kita menuangkannya dalam koding.

Sampai sekarang saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau dan interaksi waktu itu melalui sosial media. Jika ada waktu lowong, semoga bisa bertemu dengan beliau.

Saat mulai kuliah semester 2 , saya bergabung di beberapa komunitas programming via Facebook. Di semester 5 dan 6, saya mulai terjun ke komunitas secara langsung salah satunya lewat meetup komunitas programming di Bali. Waktu itu baru ada Game dev Bali dan BaliJS. Namun, untuk sekarang saya hanya aktif di komunitas BaliJS. Dan di saat yang sama saya juga aktif di komunitas sosial media sampai pernah mendapat tawaran menulis artikel di CodePolitan dan Chromplex yang waktu itu masih dalam perjuangan untuk meningkatkan kualitas programmer di Indonesia. Oh iya, saya waktu itu juga belajar di SekolahKoding dan CodeSaya. Kadang (di SekolahKoding)  saya bantu” jawab pertanyaan, bertanya pula di sana, dan berbagi tutorial walaupun tidak seberapa.

Belajar dari hal tersebut, saya melihat bahwa dengan bergabung dan terlibat di komunitas, “energi” saya sebagai seorang programmer / coder terus bertambah. Kadang kalau jenuh pada saat mengerjakan tugas akhir (D3), saya larinya ke komunitas untuk mencari “energi” baru dan menambah kenalan programmer lewat meetup.

Sampai sekarang, saya terus lakukan hal tersebut dan berhasil membuat komunitas PHPBali di Bali dengan bantuan teman” yang saya percaya. Jadi, selain jadi inisiator di PHPBali, saya juga ikut” membantu di komunitas seperti BaliJS, Facebook Dev. C Bali dan GDG Bali semampu saya walaupun tidak seberapa.

Beberapa hal yang bisa saya petik dari esensi berkomunitas di lingkungan komunitas programmer khususnya di Bali:

  1. Masih ada (beberapa) programmer / developer yang jago di Bali yang secara cuma – cuma mau berbagi ilmunya ke komunitas dan meluangkan waktunya demi komunitas.
  2. Komunitas merupakan kunci (menurut saya) untuk menyeimbangkan kemampuan pelajar yang menekuni di bidang informatika yang ingin terjun ke dunia software development dengan kebutuhan industri. Mengapa? Karena, sebagian besar peserta dan pembicara di dalam komunitas adalah orang – orang profesional di dunia software development.
  3. Merupakan sebuah PR besar bagi kami di Bali bagaimana cara kami “memaksa” para pelajar di bidang informatika mau datang ke acara meetup atau workshop komunitas kami. Entah, apakah kami harus menjemput bola seperti mengadakan roadshow mungkin?
  4. Kalangan akademisi (sebagian besar) masih cuek dan tidak mau tahu anak didiknya berhasil menjadi programmer atau tidak. Yang penting mereka telah mengajarkan sesuai dengan kurikulum. Padahal, kalau saya amati masih ada kalangan akademisi yang mau berani keluar dari zona nyaman (mengajar diluar kurikulum tetapi sesuai dengan kebutuhan dunia industri). Maaf ini tidak masuk dalam poin esensi komunitas yang saya maksudkan. Cuma curcol aja.
  5. Rata-rata meetup kami diadakan di seputaran daerah Kuta, Denpasar dan yang paling jauh di Ubud. Padahal Bali itu luas sekali, butuh tenaga, waktu dan biaya untuk mengadakan meetup beberapa wilayah.

Lantas apa manfaat langsung yang saya dapatkan dari komunitas programmer di Bali? Jawabannya, nyaris tidak ada jika Anda berfikir saya akan mendapatkan uang. Perlu Anda ketahui setiap kali saya pergi ke acara komunitas entah sebagai pembicara atau peserta, ada saja yang bertanya “Dapat apa di sana? Dapat uang ngga?”. Mulai dari kaum kreatif, non kreatif bahkan keluarga saya sendiri.

Bahkan ada yang terang-terangan bilang ke saya seperti ini “Ngapain datang ke acara seperti itu kalau ngga menghasilkan uang!”. Hmm, untuk pernyataan ini harap maklum bahwa yang bersangkutan sudah berkeluarga.

Lantas apa manfaat tidak langsung yang saya peroleh? Relasi dengan prorgrammer profesional, makan gratis (bila ada) dan diskusi tentang teknologi yang tidak akan Anda dapatkan jawabannya di internet.

Catatan terakhir dari saya: “Ada saatnya untuk sosial dan ada saatnya sosial sambil mencari uang dan nasi”

 

satyakresna

~Tetap Fokus~